Minggu, 01 November 2009

Kado Tercantik


Kado Tercantik

Tak pernah kulihat sebelumnya, kado secantik ini. Entah dari mana datangnya, aku tak peduli, karena yang pasti kado itu akan menjadi milikku. Sungguh aku tak bisa bercerita kepada Anda perasaan yang menderu saat pertama kali ditawari untuk menerima kado tersebut. Seseorang dengan ikhlas sepenuh hati akan menyerahkannya kepadaku, hari ini.

Melihat bungkusnya yang indah berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil merah jambu, tak salah penilaianku, kado itu memang teramat cantik. Yang kutahu, tidak hanya hari ini ianya berbungkus seindah itu, setiap hari, setiap waktu, selalu terbungkus rapih. Isinya? Jangan pernah tanyakan kepadaku, karena aku, juga orang lain tak pernah tahu apa dan bagaimana rupa isinya. Jangankan tersentuh, terlihat pun tak. Terutama oleh orang-orang yang memang terlarang untuk melihatnya. Seistimewa apakah kado itu? Sehingga tak seorangpun pernah melihat kado cantik ini? Dan seistimewa apa diriku ini sehingga seseorang berkenan mempercayakannya kepadaku?

Terbayang dari bungkusnya, yang setiap saat selalu terlihat rapi dan terjaga dengan baik, yang tak tersentuh kecuali oleh yang berhak menyentuhnya, aku yakin, isi dan rupa didalamnya, jauh lebih indah dari cantik bungkusnya. Kumengerti, kalaulah kado itu mampu sedemikian cantiknya terjaga kulit luarnya, bagaimana lagi aku meragukannya tak senantiasa diperindah rupa dalamnya, juga inti terdalam dari semua isinya, yang sejujurnya, adalah hal terpenting dari semua kecantikan sesuatu. Maaf, aku tak bisa mengajak Anda ikut membayangkan indah rupa isinya, dan kalaupun aku tahu Anda mencoba melakukannya, sebaiknya Anda berhadapan denganku. Kado tercantik itu milikku, akan kujaga ia dan takkan kubiarkan orang lain ikut menikmatinya, meskipun sekedar membayangkan.

Ingin sekali kucari pita pembuka kado yang biasanya berwarna merah, agar segera kusingkap isinya. Tapi satu hal mengganjalku, masih tersisa beberapa saat agar aku benar-benar mendapatkan izin untuk membukanya. Bahkan, lebih dari itu (sensor by redaksi). Harus kutunggu pemiliknya, yang menjaganya, dan merawatnya selama ini benar-benar menyerahkannya kepadaku dalam satu upacara sakral. Kenapa sedemikian sakral? Sesuatu yang cantik nan suci harus diserahkan dalam koridor keagungan yang juga suci, itu jawabnya. Tak apalah, sebagai satu jalan untuk tetap mensucikan diriku, juga kado cantik itu, wajib kujalani upacara sakral itu.

Aku berjanji, setelah kuterima dalam kharibaanku kado tersebut, akan kujaga, kurawat, kuperlakukan ianya agar tetap menjadi kado tercantik, terindah, terbaik, terbagus, selamanya. Sampai tak ada lagi yang membuatku harus melirik kado-kado diluar yang terkadang hanya bagus dan cantik bungkusnya.

Dan kamu tahu dik, kamulah kado tercantik itu ... (Bayu Gautama)

Bila Dia Tak Seperti yang Dibayangkan

Bila Dia Tak Seperti yang Dibayangkan

Publikasi: 04/08/2004 09:37 WIB
eramuslim - Bayangan tentang pasangan sebelum menikah tak sepenuhnya mirip dengan realitas yang dihadapi setelah pernikahan. Akan ada hal di luar dugaan tentang pasangan yang kita temui. Lalu, jika kejutan yang muncul itu buruk, bagaimana cara menyikapi dan mengantisipasinya.
Hanifah (bukan nama sebenarnya) benar-benar shock. Sore ini ia memergoki suaminya, yang baru menikahinya beberapa hari lalu, mamiliki tattoo pada pangkal lengannya. Tattoo bergambar laba-laba itu terpatri permanen di pangkal lengan kanannya.
Ini memang kejutan besar bagi Hanifah. Pasalnya, suaminya memang dikenal sebagai pria saleh yang berhati lembut oleh teman-teman dekatnya. Siapa yang sangka dia mantan preman. Ketika ta'aruf di saat proses pernikahannya Hanifah tak berminat bertanya tentang masa lalu pria yang kini telah menjadi suaminya itu. "Toh semua orang disekitarnya mengatakan dia orang baik, buat apa lagi mengorek masa lalunya," Begitu fikirnya waktu itu. Namun kini ketika ia menemukan tattoo itu tak urung Hanifah merasa mendapat kejutan besar.
Hanifah benar dengan sikapnya yang tak mau mengorek aib masa lalu dari orang yang ingin meminangnya itu. "Mengenai aib masa lalu, kalau memang dia sudah taubat, menurut saya tidak usah lagi dicari-cari. Biarlah berlalu. Allah saja menutup aib, mengapa kita tidak bisa? Yang penting sekarang dia sudah baik," Begitu pendapat Herlini. Namun keterkejutan, juga manusiawi , siapa yang membayangkan seorang yang lembut hati, rajin beribadah pula memiliki tattoo di lengannya. Untungnya Hanifah cepat tersadar dari keterkejutannya itu, sehingga perasaan dan pikirannya tak terhanyut dalam masalah itu. "Yang penting sekarang ia sudah jadi laki-laki yang sholeh," katanya dalam hati. Ia pun mengukuhkan kembali niat menikah adalah untuk menjadikan rumah tangga sebagai ladang amal bagi dirinya.
Apa yang dialami oleh Hanifah merupakan salah satu bentuk kejutan yang mungkin muncul setelah pernikahan. Munculnya sifat atau kebiasaan buruk yang selama ini tak pernah terungkap dapat menimbulkan percecokan yang berkepanjangan. Apa lagi pada pasangan yang mengawali pernikahan mereka dengan pacaran. "Aku kenal dia dulu tak seperti ini!" Biasanya kalimat seperti ini yang keluar dari mulut mereka, plus ekspresi yang penuh kejengkelan.
Lalu bagaimanakah menanggulangi masalah ini? Berikut pendapat beberapa nara sumber yang dihubungi Safina.

Fauzil Adhim, Psikolog
Memang menurut Fauzil Adhim, pacaran membawa resiko sulitnya merubah persepsi tentang pasangan. Orang akan memandang pasangannya seperti apa yang ia ketahui dulu. Jika sekarang ia menemukan sesuatu yang berbeda, ia jadi sulit menerima dan menyesuaikan diri.
Di sinilah letak pangkal masalahnya. Menurut Fauzil persepsi tentang pasangan akan menumbuhkan harapan-harapan tertentu terhadap perkawinan. Resiko dari setiap haarapan adalah kekecewaan, daan kekecewaan tentu saja akan mempertajam perselisihan dan memperlemah kemampuan menyesuaikan diri.
Lebih lanjut Fauzil menjelaskan, "Jika marital expectation (angan-angan perkawinan, red) berbanding terbalik dengan marital satisfaction (kepuasan perkawinan), tidak demikian halnya dengan marriage orientation (orientasi atau landasan menikah). Semakin mendasar orientasi perkawinan seseorang, insya Allah semakin mudah meraih kebahagiaan perkawinan." Ini artinya kebahagiaan perkawinan lebih berkait dengan apa yang menggerakkan seseorang menikah dan menjalani pernikahan.
Menurut psikolog yang juga dikenal sebagai Ustadz ini, hadits-hadits tentang pernikahan dan memilih jodoh lebih banyak mengajarkan soal membangun marriage orientation yang baik, mantap dan mendasar. "Ini mempengaruhi komitmen kedua pihak. Jika harapan membawa kita banyak menuntut pasangan, maka komitmen lebih membimbing kita untuk menerima dan pada saat yang sama berbuat," katanya.
Fauzil kembali menegaskan, "Kenyataannya, yang banyak mempengaruhi percekcokan dan kehancuran rumah tangga bukanlah masalah pengenalan yang kurang mendalam dan ketidaksesuaian pasangan dengan bayangan semula."
Baginya yang terpenting adalah memiliki sikap mental yang dewasa dan matang. "Bahwa ada perbedaan, itu sangat wajar. Ada yang tidak kita sukai, juga sangat wajar." Ia menambahkan, terhadap diri sendiri pun, seringkali ada yang tidak disukai. Ia mengambil contoh misalnya seseorang ingin menjadi orang yang rajin qiyamul lail, tetapi sering tak sanggup bangun meski saat itu sudah terjaga. "Ini jelas tidak ia sukai, dan orangnya adalah dirinya sendiri. Tetapi apakah karena itu ia harus menyakiti diri sendiri? Tidak. Yang diperlukan adalah menata, memperbaiki dan memulihkan (jika sebelumnya baik)." Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan penyesuaian diri, menyatakan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan serta bagaimana cara mengubah sikap pasangan.
Bagaimana kalau dia tidak mau diubah? "Pertanyaan itulah yang justru membuat perubahan tidak mungkin terjadi. Ini pertanyaan pesimistik, dan membuat kita cepat lelah."
Bagi Fauzil segala sesuatu bersifat tadarruj (bertahap). Tanpa melalui tahap-tahap yang wajar, yang terjadi bukan perubahan positif. "Tetapi kenapa kita tidak tahan menjalani proses perubahan? Sepanjang pengalaman klinis, orang yang tidak sabar berproses umumnya justru orang yang memang perlu memperoleh terapi, karena merekalah sesungguhnya yang paling bermasalah, meskipun kelihatannya baik-baik," tuturnya. Ada yang harus dibenahi dalam diri mereka, dalam jiwa mereka. Atau mereka merasa dirinya sangat baik, bahkan teramat baik atau malah sempurna, sehingga maunya pasangan berubah seketika, saat itu juga.
Memang adakalanya keluhan tentang pasangan yang tidak mau berubah disebabkan oleh persoalan psikologis pasangan, tetapi itu sifatnya kasuistik. Sesuatu yang bersifat kasuistik, tidak bisa dijadikan dalil umum.
Sebenarnya ada kekuatan besar yang mampu membuat orang tangguh dalam menghadapi segala kesulitan, termasuk problema rumah tangga, kekuatan ini bernama niat. Dalam bahasa psikologi sering diungkapkan dalam istilah intensi, motivasi maupun orientasi. "Ini mempengaruhi persepsi kita dalam menghadapi segala sesuatu," kata Fauzil.
Seorang petualang, menganggap kesulitan saat mendaki gunung sebagai tantangan yang memberi kebahagiaan, kepuasan dan makna. Mereka bahkan sengaja melewati jalur sulit yang belum pernah, atau sangat jarang, dilalui pendaki lain. Tetapi seorang yang datang ke gunung sekedar untuk rekreasi dan memperoleh nikmatnya pemandangan, sulitnya medan akan terasa sebagai derita berkepanjangan.
Menikahpun demikian, ada yang berangkat dengan bekal mental sebagai petualang yang ingin menancapkan cita-cita besar, ada yang berangkat dengan romantisme belaka, tetapi dirinya sendiri tak sanggup membangun suasana romantis. "Nah, kunci dari semua itu adalah niat, termasuk bagaimana kita memandang pernikahan serta bagaimana kita menempatkan pernikahan, sebagai tempat untuk dilayani saja," tutup Fauzil Adhim.

Herlini Amran, Ustadzah
Herlini mengatakan ada dua hal yang harus dilakukan setiap pasangan untuk mencapai kebahagiaan yaitu ta'aruf pasca nikah yang mendalam serta membangun komitmen pernikahan sejak awal. Ia menjelaskan, "Pertama-tama yang harus kita ingat, proses pernikahan yang kita lakukan adalah tanpa pacaran. Nah, setelah menikah diperlukan proses ta'aruf yang lebih mendalam. Dan sebelum pernikahan terjadi, sudah ada kesepakatan bahwa pernikahan ini adalah membentuk rumah tangga sebagai ladang amal atau ladang ibadah."
Herlini juga berpendapat orientasi dan komitmen pernikahan ini dapat menumbuhkan rasa saling memahami di saat munculnya perbedaan antara suami-istri. Ia menambahkan, "Dengan komitmen awal yang dibuat sebelum menikah tadi maka kita ada keinginan untuk saling membahagiakan pasangan kita."
Ta'aruf pasca nikah dilakukan dengan banyak-banyak dialog dan komunikasi. "Biarkanlah pasangan kita yang mengenalkan dirinya pada kita. Misalnya dengan mengatakan, 'saya tuh orangnya begini, begitu, kalau saya marah kamu diam dulu, nanti kalau suasana adem baru perbincangan dilanjutkan.'," katanya.
Selain itu dituntut sikap saling menerima kekurangan pasangan kita, tentunya masing-masing pribadi juga harus mau saling membangun dirinya sendiri.
Menurut Herlini, "manusiawi sekali jika seorang suami atau istri kurang berkenan dengan perilaku pasangannya." Tapi itu bisa diredam dengan banyak-banyak berlapang dada, sabar. "Yang penting diingat, kita tidak mungkin membandingkan diri kita dengan pasangan kita, karena pakaian kita belum tentu cocok dengan orang lain," kata ustadzah muda ini.

Kunci keberhasilan menyikapi perbedaan karakter dengan pasangan adalah syukur dan bersabar. Bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan, dan bersabar dengan kekurangan pasangan.

Mengenal Pasangan Pasca Pernikahan
(Pengalaman Ali Muakhir Penulis Novel dan Komik)
Sebelum menikah dulu, saya sudah mengenal istri saya sekitar 1,5 tahun. Memang tidak kenal begitu dekat, tapi sudah terekam dalam benak saya, dia tuh orangnya seperti ini, sifat-sifatnya kira-kira seperti itu. Dan saya sama sekali tidak mencari sumber informasi untuk menggali tentang istri saya, saya yakin saja. Memang sih waktu proses khitbah dulu sempat dapat telepon yang mengatakan sesuatu yang tidak enak tentang istri saya. Saya sempat shock, tapi karena berita itu tidak jelas, saya anggap itu cobaan, dan saya maju terus.
Setelah menikah, rasanya wajar kalau kita menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita pada pasangan. Kuncinya bagi saya adalah komunikasi. Masalahnya istri saya itu sangat pendiam, sangat sulit untuk membuatnya terbuka. Seringkali saya berusaha memancing dia untuk banyak bercerita,banyak curhat, tapi sulit. Dia selalu takut salah ngomong, jadi kalau berbicara juga sangat memilih kata, sehingga susah untuk tahu isi hatinya yang mendalam. Sampai sekarang kita sudah lima bulan menikah, saya masih terus berusaha mengenal dia.
Untuk saling mengenal dan mencari tahu tentang pasangan, biasanya kita mengadakan koreksi atau evaluasi. Dulu awal menikah, seminggu sekali setiap Sabtu saya ajak dia makan di luar. Di sana kita review saling bicara, saling terbuka, kira-kira ada tidak sih tingkah laku saya yang menyakiti dia, atau apakah kita telah melakukan kesalahan, demikian pula sebaliknya. Proses evaluasi itu terus diupayakan, tapi sekarang sudah sebulan sekali, mungkin nanti tiga bulan sekali, pokoknya harus ada. Dari sana kan komunikasi terbangun, dicari jalan keluarnya, bagaimana mencari solusinya, dan ada upaya memperbaiki diri.
Saya lebih suka menggali segala sesuatunya tentang istri secara langsung, tidak melalui orang lain, karena saya takut yang saya dapatkan kurang enak, nanti kitanya jadi berpikir negative. Dan saya lebih suka apa adanya. Apa adanya diri kita ya kita jabarkan.
Karena saya sulit membuat istri saya yang pendiam menjadi banyak bicara, terutama untuk mengungkapkan isi hatinya, saya cari solusi dengan tulisan. Ternyata berhasil, bahkan dia bisa marah-marah lewat sms atau note.
Sebagai contoh, saya orangnya terlalu mandiri dari dulu, awalnya saya tidak menyadari kalau kemandirian saya membawa masalah bagi istri saya, dia jadi merasa tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan. Sekarang saya selalu mengupayakan apa-apa saya bicarakan. Sebagai suami saya tidak mau mengekang dia, dia mau kemana asal ijin, saya tidak masalah. Saya nggak mau membuat dia terpaksa.
Selain komunikasi, saya juga menekankan kita harus memulai dari hal yang kecil. Dari evaluasi itu terbaca apa kesalahan kita, jadi kita ubah secara bertahap.
Tulisan ini Pernah Dimuat dalam Majalah Safina No. 3 Tahun I, Mei 2003

30 Tanda Jatuh Cinta

30 Tanda Jatuh Cinta

Rasa jatuh cinta sukar digambarkan mahu pun diucapkan dengan kata-kata. Siapa yang jatuh cinta akan sentiasa diusik perasaan. Semua menjadi indah dan membahagiakan. Namun mengalami cinta umpama bermain api. Jika tahu mengendalikannya, selamat diri. Jika tidak, terbakar hangus dan merana diri. Remaja dan belia bahkan yang sudah berumahtangga pun akan mengalami cinta. Semuanya kerana cinta tidak mengenal usia dan latar belakang. Cinta boleh terjadi bila-bila masa. Jadi bagaimana mengenali bila dan bagaimana seseorang itu dihinggapi rasa cinta? Cuba semak 30 tanda jatuh cinta di bawah ini supaya dapat melengkapi diri sebelum menghadapi atau menangkisnya. Terpulang sama ada mahu teruskan pemburuan cinta, mengalami percintaan atau menghindari cinta. Asalkan anda bahagia.

1. Sukar melelapkan mata
Biasanya anda jarang mengalami masalah untuk tidur. Kali ini, sejak bertemu dan berkenalan dengannya ingatan anda kepada si dia kian menebal hingga mengganggu tidur anda.

2. Perasaan sentiasa berdebar
Perasaan anda sentiasa berdebar-debar jika bertembung dengan si dia di jalan. Malah anda jadi kelam kabut dan menggeabah apabila dia menghampiri anda.

3. Suka ambil tahu

Anda semakin berminat untuk ambil tahu tentang latar belakang dan perkembangan si dia. Anda tekun mendengar cerita mengenai si dia dan sering bertanya tentang si dia dari kawan-kawannya.

4. Resah gelisah
Hati anda merasa resah dan gelisah bila si dia tidak kelihatan. Anda tercari-cari kalau-kalau terlihat kelibat bayangnya.

5. Dihinggapi cemburu
Anda mula merasa cemburu bila si dia berbual dan melayan kehadiran orang lain sekalipun kawan-kawanya. Ikutkan hati anda, biarlah dia berbual dan melayan anda seorang. Sikap anda itu ketara kelihatan sehingga disedari kawan-kawan anda sendiri.

6. Hobi baru, termenung
Bila tidak melakukan sesuatu, anda segera termenung. Fikiran anda jauh melayang dan pancaindera anda tertutup untuk menyedari hal-hal yang berlaku di sekeliling anda. Di mata anda terbayang-bayang wajah si dia dan anda berada di sampingnya.

7. Dating
Ada sahaja alasan anda ajukan kepadanya untuk berjumpa. Kemudian secara terang, anda tawarkan keluar bersama. Kesempatan yang terluang atau di hari cuti pasti anda habiskan untuk dating. Kadang-kadang anda buat temujanji lagi di waktu malam sekalipun baru petang tadi anda berdua sudah berjalan-jalan.

8. Rindu.
Anda tidak dapat mengawal perasaan. Setiap saat mengingati si dia, bagaikan terdengar suaranya sayup-sayup di telinga. Apapun yang dipandang akan mengingatkan anda kepada si dia. Anda ingin berjumpa dan melihat wajahnya.

9. Bergayut di telefon
Sekalipun bayaran telefon mahal, anda sanggup menghabiskan masa berjam-jam sehingga terjejas masa tidur anda hanya untuk berbual kosong dengan si dia. Anda tidak peduli kalau bil meningkat atau perlu beli kad telefon banyak-banyak. Yang penting dapat dengar suaranya untuk melepaskan rindu. Lagipun anda baru lena tidur setelah mendengar suara si dia.

10. Berubah citarasa

Kehadiran si dia berjaya mengubah citarasa anda tentang pelbagai perkara. Sejak kebelakangan ini, anda lebih berminat untuk menghayati senikata lagu-lagu berirama sentimental yang bertemakan percintaan. Sebelum ini anda lebih gemar mendengar irama rock, heavy metal dan hip hop.

11. Memberi hadiah
Anda memberi si dia hadiah padahal hari lahirnya masih jauh. Anda peka dengan perkembangan semasanya supaya dapat dijadikan alasan untuk memberikan hadiah. Malah, tiap bulan anda memberikannya hadiah sekalipun harus berbelanja besar. Yang pasti, anda akan memberikan hadiah yang paling istimewa di hari lahirnya nanti.

12. Awal ke tempat kerja
Sejak menaruh minat kepadanya, anda lebih bersemangat untuk datang ke pejabat malah datang lebih awal lagi. Anda harapkan ada peluang anda berbual berdua dengannya atau sarapan pagi bersama di kantin.

13. Lebih rajin

Prestasi kerja anda semakin men ingkat jika dibandingkan sebelum ini. Anda jadi lebih semangat, kreatif dan berfikiran positif. Perkembangan anda yang membanggakan itu disenangi kawan-kawan dan majikan.

14. Menjaga penampilan
Penampilan anda tidak lagi ringkas dan sederhana. Meskipun anda lelaki, anda akan mengunjungi salon kecantikan untuk potongan rambut yang bergaya dan rawatan muka. Pakaian anda berubah corak menjadi lebih menjurus kepada fesyen mutakhir. Wajah berhias dengan mekap hingga nampak mempersona. Dari rambut ke hujung kaki anda cantik menawan dan segak bergaya.

15. Defensif
Maknanya anda melakukan pembelaan. Pantang orang lain salah cakap atau sekadar mengusik, anda akan mempertahankan si dia meskipun sampai anda marah dan timbul permusuhan. Ada masanya percakapan mereka itu ada kebenarannya, tetapi anda tetap bersikap defensif.

16. Merajuk
Sedikit salah, sedikit silap anda lekas merajuk. Anda sanggup tidak makan tengahari atau tidak menegur sapa selagi si dia tidak menegur dan meminta maaf. Anda juga terus merajuk sehingga dia berkali-kali memujuk.

17. Mudah bersalah sangka
Anda mudah merasa hampa lalu kecewa jika kemahuan atau permintaan anda tidak dipenuhi. Misalnya si dia tidak hadir temujanji, anda sangka dia mungkir janji. Anda anggap dia tidak memberi perhatian dan tidak mempunyai perasaan.

18. Sentiasa kata ‘Ya’
Apa pun katanya, pendapatnya dan permintaannya, anda jawab dengan ‘Ya’. Anda sentiasa akur dan menurut sekalipun ada di antara permintaannya yang keterlaluan dan pendapatnya kurang anda senangi.

19. Sanggup berkorban
Untuk si dia sanggup bersusah payah melakukannya semuanya. Dengan rela hati anda jadi pemandu peribadinya, jadi orang suruhan, meluangkan diri anda untuknya di hari cuti dan memenuhi setiap permintaannya.

20. Jadi orang lain

Tiba-tiba anda jadi pelakon yang terbaik kerana mahu memenuhi cirri-ciri peribadi yang menjadi idaman si dia. Di depannya anda seorang romantik dan berlemah lembut sekaipun kenyataannya anda seorang yang kasar dan mudah marah. Demi si dia, anda sanggup berubah menjadi orang lain.

21. Prihatin
Anda bukan hanya ambil tahu malah sentiasa menghulurkan tangan membantu. Anda akan pastikan si dia tidak mengalami sebarang masalah dalam kehidupan sehariannya dan menjamin kebajikan dan keselamatannya.

22. Berkhayal
Potret wajah si dia jadi teman setia di waktu keseorangan. Ada masanya anda habiskan masa hanya merenung wajahnya di potret sambil berangan-angan jauh. Berkhayal seperti itu anda rasa bahagia.

23. Inginkan persamaan
Sejak mengenali si dia anda berusaha mengikuti kegemaran dan citarasa untuk mempamerkan anda meminatnya. Anda akan mengemari filem dan lagu Hindustan, masakn barat dan meniru setiap tingkah lakunya. Anda mahukan wujud persamaan anda dengan si dia.

24. Sumber ilham
Kata-katanya menjadi pendorong semangat. Anda sedari bahawa anda mempunyai kemampuan untuk melangkah jauh dan mengejar cita-cita anda. Rupanya anda ada kelebihan tersendiri yang baru anda sedari. Si dialah yang membuka minda anda. Dialah sumber ilham anda.

25. Pasang impian
Anda sering termenung membayangkan impian masa depan anda bersama dia. Selalu berdua ke mana sahaja, lalu mendirikan rumahtangga, mempunyai sejumlah anak yang comel dan tinggal dalam sebuah rumah idaman bersama. Anda dan dia sama-sama susah dan senang dalam menjayakan cita-cita sekeluarga.

26. Suka memuji
Dari pendiam anda jadi seorang yang ramah mesra dan suka memuji. Anda peka dengan penampilan si dia dan lekas memberikan pujian dan sanjungan. Hati anda rasa berbunga-bunga dapat memuji dan apalagi kalau dia merasa bangga dan senang hati oleh puji-pujian anda.

27. Mulut manis
Anda hanya berkata hal-hal yang baik sahaja ketika bersamanya. Anda akan bersetuju dan mendukung percakapannya sekaipun tidak anda sukai. Tujuannya kerana anda tidak mahu menyinggung perasaan. Tambahan anda tidak mahu menjejaskan perhubungan yang baru berputik itu.

28. Tanda ingatan
Anda memberikan sesuatu yang istimewa seba gai tanda ingatan. Jika buku diberikan, anda akan tulis sedikit kata-kata di dalamnya sebagai renungan atau kenangan. Di hari raya anda hulurkan kad raya atau kad ucap selamat di hari lahirnya. Sekalipun tidak berterus-terang, dari kata-kata yang tercoret di dalam buku dan kad dapat mencerminkan luahan isi hati anda terhadapnya.

29. Inginkan perhatian
Anda selalu mengharapkan si dia memberikan perhatian dan mahu meluangkan masa bersama anda. Walaupun anda tidak mahu menyusahkan si dia, namun sedikit perhatian yang diberikannya sudah cukup menggembirakan hati dan anda hargai.

30. Bertekad memilikinya
Secara drastik, anda berhasrat untuk memilikinya. Apapun keadaan dirinya, anda pasrah dan menerima. Anda ingin selalu di sampingnya, menjadi teman hidupnya sehidup semati. 


10 Sikap Wanita Yg Disukai Lelaki


Sikap Keibuan
Banyak lelaki yg terpikat pada wanita yg  bersikap keibuan, lembut, mengambil berat dan penuh kasih sayang. Wajah yg keibuan mampu membuat lelaki berasa tenteram ketika sedang stress, cemas dan gelisah dan senang hati ketika mahu bermanja. Jangan tunggu sampai melahirkan baru nak tonjolkan sikap keibuan. Setiap wanita ada potensi keibuan dalam diri masing-masing.
 

Keanak-anakkan
Dalam batas yg wajar, sifat keanak-anakan seorang wanita menjadi daya tarikan di mata lelaki. Mereka berasa terhibur dengan keletah anda. tetapi tentulah bukan sifat keanak-anakkan yg melampau  dan menyakitkan hati tetapi sikap keanak-anakan yg menyenangkan. Misalnya, kemanjaan wanita yg membangkitkan naluri kebapaan dan kelakian lelaki. Wanita ceria membuat lelaki lebih berghairah.
 

Penuh Pengertian
Sikap pengertian wanita membuat lelaki berasa dihargai dan diterima seadanya. Sikap ini tercermin dari perasaan mudah memaafkan, memilih waktu yg tepat utk berbincang masalah dan sebagainya. Contohnya ketika lelaki melakukan kesilapan, wanita yg berpengertian tidak terus mengeluarkan kata2 yg kasar atau menuduh bukan2 sebaliknya cuba mengerti duduk persoalannya.
 

Menghargai
Wanita yg menghargai lelaki adalah wanita idaman lelaki. Berbeza dgn wanita yg suka diperlakukan dgn lembut, lelaki suka dihargai, dipuji dgn tulus ikhlas dan diberi kepercayaan. Penghargaan dari wanita membuat lelaki berasa bangga.
 

Menjaga Penampilan
Lelaki menyukai wanita yg pandai menjaga penampilannya agar sentiasa kelihatan cantik, bersih, kemas dan menarik. Penampilan yg baik menunjukkan wanita tersebut menghargai dirinya.Dia akan murah senyuman, pandai merawat tubuhnya, meningkatkan kualiti hidupnya dan memberi yg terbaik kepada dirinya.Dia suka dan bersyukur dengan dirinya dan secara tidak langsung memancarkan pesona yg menyebabkan lelaki juga menyukainya. Apabila sudah berumahtangga, wanita tersebut terus menjaga penampilan dirinya dan kesihatan tubuh badan walau sudah beranak-pinak. Siapa yg tidak suka isteri yg masih kelihatan cantik dan ramping walau dah punya anak 3??
 

Pandai berbicara
Lelaki tertarik dgn wanita yg pandai berkomunikasi  dan boleh diajak berbual. Walau topik perbualan yg disukai lelaki berbeza dgn topik kegemaran wanita,wanita tersebut dapat mengimbanginya. Dia bukan sekadar teman berbual yg pasif, tetapi dapat memberi respon dan pendapat yg baik. Dia juga tahu menjadi pendengar yg baik, serta mengalihkan topik yg agak serius kepada perbualan yg lebih menarik. Lelaki juga suka dengan wanita yg suka bergurau dan pandai berjenaka serta boleh menerima jenaka lelaki dgn baik dan berfikiran terbuka.
 

Pandai Bergaul dan Menyesuaikan Diri
Wanita yg pandai bergaul dan menyesuaikan diri mempunyai nilai lebih di mata lelaki. Wanita tersebut tahu menghadapi orang yg lebih tua dan cara berhadapan dgn orang yg lebih muda. Apabila berhadapan dgn suasana yg baru, wanita tersebut tidak gentar malah cepat menyesuaikan diri. Dia mudah di ajak ke mana saja dan tidak kekok samada di bandar atau di kampung.
 

Menghormati Diri Sendiri
Lelaki suka dgn wanita yg menghormati dirinya sendiri sebagai seorang wanita, bersikap sopan dan mempunyai etika. Wanita yg menghormati dirinya sendiri mempunyai keyakinan dan tahu apa yg baik dan buruk diperlakukan oleh seorang lelaki terhadap dirinya. Jadi dia tahu apa yg dia inginkan dan mahu elakkan serta menjaga maruah dirinya. Dia tidak akan merendah-rendahkan dirinya dan tidak akan membiarkan  lelaki memperlakukan dirinya sesuka hati.
 

Simpati dan Prihatin
Lelaki suka wanita yg murah hati, mengambil berat, simpati pada nasib yg susah, sayangkan kanak-kanak dan tidak memilih bulu. Kebaikan yg wajar dan spontan mencerminkan hati yg mulia. Ada kecantikan dalaman pada dirinya yg memancar keluar dgn indah dan mempesona.


Berbahagia Menjadi Lajang

Berbahagia Menjadi Lajang

eramuslim, Bagi seorang wanita pada umumnya, melajang dalam usia matang sungguh tak nyaman. Betapa pun, menikah adalah kebutuhan fitrah setiap manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini sangat bisa jadi menjadi penyebab guncangan jiwa yang bersangkutan. Ditambah lagi budaya dan paradigma yang berkembang di masyarakat yang memojokkan wanita lajang. Perawan tua, tidak laku dan kalimat-kalimat semacamnya menjadi label bagi mereka yang belum menikah. Belum lagi tuntutan dan pertanyaan dari keluarga dan tetangga kiri-kanan tiap ketemu yang bikin sebal,” Kapan menikah?”
Bagi seorang wanita normal, keluarga dan anak-anak adalah harapan dan cita-cita. Keluarga adalah tempat mengabdi yang membawa ketenangan. Anak-anak adalah amanah yang membawa kebahagiaan. Sangat wajar, jika setiap wanita menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya. Tapi masalahnya, menikah tidak bisa dilaksanakan secara sepihak. Menikah membutuhkan pasangan, yang dalam situasi, kondisi dan masa tertentu tidak mudah ditemukan. Karena kriteria yang tak sepadan, karena kuantitas yang tak terpenuhi, maupun karena takdir belum menentukan. Seperti pada masa sekarang, saat wanita lajang di usia matang hampir menjadi fenomena.

Lantas bagaimana?

Bersabar, menunggu dan bertakwa kepada keputusan Allah. Itu yang banyak saya dengar, dan saya sepakati pula. Hal ini barangkali hikmah diperbolehkannya poligami oleh kaum pria, dan mungkin sudah tiba masanya. Ini pendapat lain, yang saya juga tidak menolaknya. Namun, apakah hanya itu? Saya kira masih ada alternatif lain, yang lebih progresif bukan pasif dan bisa dilakukan secara mandiri oleh seorang wanita. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang muslimah perkasa di punggung Gunung Kidul. Wanita itu sangat aktif utamanya dalam kegiatan dakwah dan sosial.
Dengan sepeda motornya ia menjelajahi pelosok desa, mengisi kajian dan memberikan penyuluhan di kampung-kampung miskin dan desa-desa terpencil. Ia menjadi panutan, ia menjadi konsultan, ia menjadi acuan, ia menjadi tempat orang-orang lugu itu meminta nasihat.
Muslimah itu, masih lajang dalam usianya yang 35 tahun. Muslimah itu, mengasuh tiga anak yatim dengan kemampuannya sendiri. Muslimah itu, tidak kesepian karena ia punya ‘keluarga’. Wanita itu tak kehilangan fitrah kewanitaannya karena ia punya ‘anak-anak’ tempat ia mencurahkan cinta dan perhatian. Muslimah itu tidak digugat kesendiriannya karena ia menebar manfaat.
Membaca kisahnya, banyak inspirasi yang bisa diambil oleh kaum wanita, dan saya pun ingin meneladaninya. Apa yang dilakukan muslimah tersebut bisa menjadi salah satu alternatif jawaban atas problema banyaknya wanita-muslimah khususnya- berusia matang yang belum menikah. Apa yang dilakukan si muslimah perkasa, memberikan hikmah yang banyak bagi kemanusiaan.
Jika kita renungan, menjadi lajang bukanlah sebuah aib dan dukacita. Menjadi lajang membuka pintu-pintu amal dan manfaat bagi diri dan masyarakat, seperti halnya yang dilakukan si muslimah.
Seorang wanita lajang akan lebih mudah bergerak dan beraktifitas karena ia tak dibebani tugas-tugas kerumahtanggaan. Seorang wanita lajang akan bisa lebih banyak berbakti kepada masyarakat dengan modal waktu, peluang dan kemampuan yang ia miliki. Berapa banyak selama ini aktifitas sosial masyarakat yang mandeg karena ditinggal penghasungnya (yang seorang wanita) menikah? Berapa banyak aktifitas yang masih terus berkembang karena penyandangnya ‘alhamdulillah’ masih lajang dan punya waktu banyak untuk berkomitmen?
Lantas bagaimana memenuhi kebutuhan fitrah sebagai wanita? Bukankah pintu tebuka lebar juga? Lihat, betapa banyak anak-anak di dunia ini yang butuh asuhan, pendidikan dan usapan tangan lembut kaum wanita? Apalagi di Jakarta yang sedemikian tua dan menyimpan banyak problema terutama berkaitan dengan anak jalanan, anak miskin, anak yatim dan anak-anak yang kurang dalam pendidikan dan asuhan.
Dalam kesendirian dan kemandirian kaum wanita, barangkali Allah memang mengirimkan mereka untuk anak-anak tak mampu, untuk dididik, untuk diasuh. Mereka adalah anak-anak kita juga, begitu Emha Ainun Najib pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya di buku Markesot Bertutur. Anak-anak sesungguhnya adalah anak-anak dunia, amanah dari Allah yang mesti dijaga. Sekalipun mereka tidak lahir dari rahim kita.
Saya percaya, selalu ada hikmah di balik setiap realitas yang ditetapkan Allah. Banyaknya wanita lajang pada masa sekarang, mungkin karena Allah menginginkan adanya tangan–tangan terampil, pribadi-pribadi lembut namun perkasa untuk menanggung sebagian beban dunia. Tugas itu diantaranya adalah mengasuh anak-anak yatim, anak-anak jalanan, anak-anak tetangga yang kurang perhatian dan kurang pendidikan moral. Tugas itu diantaranya adalah ikut membenahi kerusakan sosial, kemiskinan, buruknya pendidikan dan aktifitas publik lainnya yang membutuhkan komitmen waktu, kemampuan dan kemandirian seorang wanita.
Mereka butuh kita, para wanita lajang yang mandiri, yang sanggup menafkahi diri sendiri dan orang lain. Yang memiliki perhatian dan kemauan lebih untuk all out terhadap aktifitas yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh para wanita yang sudah berumahtangga. Kita bisa tetap memiliki keluarga, meski bukan karena pernikahan. Kita dapat memiliki makna, meski bukan dengan car menjadi ibu rumah tangga. Kita mampu bisa menjadi manusia seutuhnya melalui usaha kita sendiri, tanpa harus meminta pengertian semua orang, tanpa perlu menuntut dan meminta para lelaki untuk menikahi dan berpoligami. Sekarang tinggal kita tinggal memilih: Mengadopsi anak dari panti asuhan, anak jalanan, anak tetangga? Atau ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh, mendidik anak jalanan, anak-anak TPA, anak tetangga, keponakan, mendirikan taman bacaan? Atau bahkan ‘hanya’ sesedikit apapun, berkontribusi terhadap komunitas dan masyarakat. Mereka adalah juga ‘keluarga’ kita. (azi_75@yahoo.com, tulisan ini sama sekali bukan mendorong kaum wanita untuk melajang).

Selasa, 15 September 2009

Semua Karena Cinta

Publikasi: 23/09/2004 08:52 WIB
eramuslim Pagi belum lagi tiba, bahkan fajar pun belum menggantikan langit sisa semalam. Segera bangun mendahului ayam jantan yang biasa bertugas memulai hari, bahkan jauh lebih dulu dari petugas masjid sebelum ia membangunkan orang untuk sholat subuh. Aku sudah harus menggigil kedinginan bergumul dengan air kamar mandi. Pagi ini, pagi kemarin dan pagi seterusnya tetap begitu agar tak terlambat tiba di kantor.
Kecup kening istri, usap lembut kepala anak-anak yang masih terbuai mimpi-mimpinya. Usai mengucap salam, diri ini bergegas meninggalkan halaman rumah, membuang sisa kantuk semalam, melangkah cepat menyusuri jalan melewati masjid yang kutinggalkan lebih awal dan menyisakan segelintir hamba Allah yang khusyuk dengan dzikir mereka. Seperti biasa, seringkali kulafazkan dzikirku di perjalanan, sambil merapal beberapa ayat yang masih kuhapal.
Tiba di stasiun kereta api Bogor. Bersyukur jika masih tersisa bangku kosong agar dapat sedikit menuntaskan lelah dan kantuk yang tertunda sejak semalam. Lumayan untuk mengumpulkan energi agar nampak lebih segar tiba di kantor dan meniti hari tanpa menguap. Tapi nyatanya, tak semua yang kita bayangkan akan menjadi kenyataan karena aku lebih sering mendapati kereta dalam keadaan sesak penuh bahkan sebelum kereta beranjak. Maka dimulailah hari demi hari, dan setiap hari dengan berhimpit, berdesak, dan menahan panas, pengap, juga bau keringat ratusan orang di satu gerbong.
Berdiri selama tidak kurang satu jam sebelum tiba di stasiun tujuan, dengan mata terus awas terhadap gangguan tangan jahil. Kalau pun mendapatkan tempat duduk, biasanya tak bisa menikmati dengan bebas karena biasanya baru beberapa menit saja harus tergantikan oleh wanita hamil, ibu yang menggendong anaknya, atau mereka yang lanjut usia dan cacat.
Begitulah aku mengawali pagi. Setiap hari.
Sore. Setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas kantor, hampir sama episode yang berlangsung setiap sore dan malam. Adzan maghrib berkumandang sementara kereta belum juga tiba, segera kutinggalkan peron untuk menghadap-Nya. Usai sholat maghrib berlari kembali menuju peron ternyata kereta baru saja lewat dan aku harus menunggu kereta berikutnya seperempat hingga setengah jam ke depan.
Masih dengan suasana yang tak jauh berbeda dengan pagi hari. Berhimpit, berdesak dan menahan keseimbangan, juga berpeluh di tengah kerumunan ratusan orang di sebuah gerbong. Bedanya, aromanya jelas tidak senyaman pagi hari.
Tiba di rumah. Tak jarang kujumpai istriku sudah terlelap lelah setelah seharian mengurus dan mendidik anak-anak. Kuketuk pintu berulang kali. Sekali lagi. Menunggu beberapa saat dan akhirnya, dengan segurat wajah lelahnya istriku membukakan pintu.
Begitulah malam menutup hariku. Setiap hari.
***
Dik, Aku memang harus melupakan banyak waktu bersamamu, melewatkan detik-detik menyenangkan melihat tingkah dan tawa anak-anak. Bahkan aku terlalu sering tak bertemu dengan anak-anak lantaran mereka belum bangun saat aku berangkat dan sudah terlelap sesampainya aku di rumah. Hanya wajah-wajah polos tanpa dosa yang menyambutku dalam lelapnya yang hanya bisa kukecup lembut agar tak membuyarkan mimpinya.
Kulakukan semua itu karena cinta. Cinta kepada Allah yang menganugerahkan cinta dan kehidupan ini, yang memperkenankan aku hidup bersama orang-orang yang mencintaiku. Cinta lah yang tetap membuatku tegar menjalani hidup, seberat apapun itu.
salam cinta buat orang-orang terkasih
 Oleh : Bayu Gautama

Romantis di Mata Laki-Laki

Romantis di Mata Laki-Laki

Publikasi: 27/10/2004 10:05 WIB
eramuslim - Membicarakan masalah persepsi romantis bagi laki-laki rasanya seperti membahas sesuatu yang akan membuat orang tersipu-sipu malu.
Persepsi laki-laki dan wanita tentang romantisme ternyata tidak selalu sama. Bagi laki-laki, romantisme orientasinya adalah tujuan, jadi harus nyata, bukan simbol. Hal ini dibuktikan dengan romantis bagi suami memerlukan kedekatan istri secara fisik. Bagi laki-laki kartu ucapan bertuliskan "I miss you" mungkin kurang romantis. Begitu pula jika ada pihak ketiga yang ikut nimbrung dalam suatu momen romantis (maksudnya anak). Lain halnya dengan wanita. Wanita mengasosiasikan romantisme dengan hal-hal yang berorientasi kepada hubungan yang serasi, penuh cinta kasih, tidak selalu fisik. Itulah sebabnya seorang wanita menganggap pemberian bunga, puisi dan rayuan sebagai perilaku romantis.
Kebutuhan akan romantisme sebenarnya ada pada pihak wanita. Wanita memerlukan semua ritual romantis yang mampu dilakukan laki-laki. Ini merupakan penjelasan mengapa novel-novel percintaan dan sinetron berbumbu romantisme selalu laris. Singkatnya kalau para wanita itu memiliki para suami yang romantis, buat apa mereka berangan-angan mencari romantisme lewat novel dan sinetron?
Namun bukan berarti laki-laki tidak butuh romantisme. Karena masalahnya adalah biasanya untuk urusan romantisme, suami melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu kepada istri. Padahal tidak semua laki-laki memiliki sense of romance yang sama dengan istrinya. Sehingga kemesraan dan kebahagiaan yang diharapkan sebagai tujuan dari ritual romantis itu tidak selalu tercapai.
Jika wanita merasa romantis maka ia akan merasa dicintai dan dipuja. Sedangkan jika laki-laki merasa romantis maka ia akan merasa dicintai dan gairahnya akan bangkit.
Seorang suami yang merasa mendapatkan perlakuan yang nyaman dari istrinya akan merasa lebih bahagia dan romantis. Ketika suami melakukan hal-hal kecil untuk istri, ucapan terimakasih dan wajah yang gembira akan menjadi kebahagiaan yang manis bagi suami. Penghargaan istri terhadap hal-hal yang dilakukan suami merupakan hal yang romantis bagi suami.
Ketika seorang istri menyatakan rasa puas dan bahagia atas semua yang dilakukan suami, maka suami akan merasa sebagai seorang pahlawan yang menang perang. Ia akan merasa bahagia, romantis dan gagah perkasa dalam waktu yang bersamaan.
Laki-laki memerlukan waktu-waktu tertentu untuk berkumpul dengan sesama laki-laki. Pada saat-saat seperti ini laki-laki akan merasa nyaman jika istrinya memberikan kepercayaan penuh dan tidak usil dengan kehidupan sosial bersama teman-temannya. Setelah beberapa saat berada dalam lingkungan maskulin, para suami akan lebih merindukan istri.
Sebagaimana wanita, para laki-laki pun perlu merasa romantisme mereka dimanjakan oleh para istri. Seorang istri sebaiknya menyambut isyarat-isyarat gairah suami dengan baik. Jangan sampai ada kesan enggan apalagi jual mahal. Penolakan sama sekali tidak romantis buat laki-laki.
Terlepas dari semua teori tentang romantisme. Romantis adalah sesuatu yang dapat dirasakan dan dinikmati bersama. Baik bentuknya merupakan kontak fisik maupun batin. Adapun Rasulullah SAW yang memanggil Aisyah dengan panggilan sayang Humairo (Yang berpipi kemerah-merahan). Rasul juga mandi bersama Aisyah dan saling berebut gayung dengan mesra. Bahkan Rasulullah SAW begitu melankolis sehingga selalu terkenang-kenang akan Khadijah almarhumah sehingga kerap mengirim hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah semasa hidup. Sense of romance Rasulullah sangat tinggi, beliau selalu memperlakukan para wanita dengan perlakuan terbaik.
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No. 7 Tahun I, September 2003.

Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta 

Oleh Aam Amirudin
Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.
Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur …
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .
Oleh sebab itu, disini kita tidak akan mendefinisikan cinta karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dalam perbuatan kita. Disini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.
Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :
  1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
  2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
  3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
  4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.
Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri”. “ Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (HR. Muslim)
Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !